
Gangguan sistem, serangan siber, atau kehilangan data dapat menghambat operasional bisnis dan menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan backup dan disaster recovery sebagai bagian dari strategi perlindungan data. Meskipun sering dianggap sama, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi untuk menjaga kelangsungan operasional bisnis.

Backup adalah proses membuat salinan data agar dapat dipulihkan jika data asli hilang, rusak, atau terhapus. Salinan ini disimpan di lokasi lain sehingga data tetap tersedia saat dibutuhkan.
Sementara itu, disaster recovery adalah strategi untuk memulihkan sistem IT, aplikasi, dan infrastruktur setelah terjadi gangguan, seperti serangan ransomware, kegagalan server, atau bencana alam. Dengan kata lain, backup melindungi data, sedangkan disaster recovery memastikan operasional bisnis dapat kembali berjalan dengan cepat.
Artikel terkait: 5 Cara Mengatasi Masalah Jaringan agar Performa Tetap Optimal
Untuk memahami lebih lanjut tentang backup serta disaster recovery, berikut ini perbedaan keduanya.
Backup bertujuan menjaga ketersediaan salinan data sehingga informasi penting tidak hilang. Sebaliknya, disaster recovery berfokus pada pemulihan layanan dan sistem agar downtime dapat diminimalkan.
Backup hanya melindungi data, seperti dokumen, database, dan file penting. Sementara itu, disaster recovery mencakup server, storage, aplikasi, jaringan, hingga konfigurasi sistem sehingga seluruh lingkungan IT dapat dipulihkan.
Pemulihan melalui backup umumnya memerlukan proses restore data yang dapat memakan waktu, tergantung jumlah data dan media penyimpanannya. Sebaliknya, strategi disaster recovery dirancang untuk memenuhi target Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO), sehingga proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.
Backup efektif mengatasi kehilangan data akibat human error atau kerusakan file. Namun, ketika perusahaan menghadapi gangguan besar seperti ransomware, kegagalan data center, atau bencana alam, disaster recovery berperan untuk memulihkan operasional secara menyeluruh.
Mengandalkan backup saja belum cukup karena perusahaan masih membutuhkan waktu untuk memulihkan sistem dan layanan. Sebaliknya, disaster recovery tanpa backup juga berisiko apabila tidak tersedia salinan data yang valid.
Dengan menerapkan backup dan disaster recovery, perusahaan dapat melindungi data sekaligus mempercepat pemulihan operasional. Kombinasi keduanya membantu mengurangi downtime, meminimalkan kehilangan data, serta mendukung business continuity ketika terjadi insiden yang tidak terduga.
Artikel terkait: Cara Memilih Server yang Tepat Sesuai Kebutuhan Perusahaan
Agar strategi backup dan disaster recovery berjalan optimal, perusahaan membutuhkan solusi yang mampu melindungi data sekaligus mempercepat proses pemulihan. NetApp menyediakan berbagai teknologi, seperti Snapshot untuk membuat salinan data secara instan, SnapMirror untuk replikasi data, serta platform ONTAP yang memudahkan pengelolaan storage dan perlindungan data dalam satu sistem.
Sebagai partner resmi NetApp, PT Kreasi Anugerah Solusindo (KAS) membantu perusahaan merancang dan mengimplementasikan solusi sesuai kebutuhan bisnis. Tertarik menggunakan solusi server dari NetApp? PT. Kreasi Anugerah Solusindo adalah perusahaan IT Consultant yang menawarkan solusi backup and disaster recovery. Hubungi sales@kreasi-solusindo.com untuk konsultasi dan penawaran terbaik.